Senin, 11 Januari 2010

Jadi cuma mau ikut – ikutan aja lo?

     Salamun’ Alaikum!


     Salam Hujan Turun!

     Tak terasa tahun Gregorian (masehi) sekarang berada di tahun 2010, dan sebentar lagi tahun 2012. Yang kata Mami Laurent bakal terjadi sesuatu yang besar, sampai dia ga bisa ngeramal lagi. Kalo kata temen sebangku saya sih dia ga bisa gara – gara udah meninggal sebelum 2012. Tapi bodo amat, Allah SWT yang lebih tahu.

     Bicara tentang Allah SWT, mungkin kita akan teringat bahwa Dia-lah yang menciptakan Matahari dan juga Semut, tetapi saya nggak akan bicara tentang itu. Saya akan bicara tentang orang – orang yang sering kita temui, membuat hidup kita berwarna, dan membuat hidup kita nggak flat. Siapakah dia? Yep Mahluk itu adalah orang yang sering kita sebut orang aneh! Wiw benarkah dia aneh? Atau hanya sekedar berbeda dari kita? Yuk kita sharing fikiran, tapi sebelumnya biar Shifu Alfy dulu yang ngasih perspektif.

     Dalam kamus Oxford Learner’s Pocket Dictionary edisi 3, aneh berarti tidak biasa atau berbeda. Dari dua kata itu saja bisa terlihat bahwa kita menyebut orang – orang disekitar kita yang berbeda dengan kata orang aneh. Ya itulah kata yang biasanya keluar, tapi jika kita berpikir mendalam dan membayangkan jika ada begitu banyak orang – orang (aneh) seperti mereka dan kita berbeda dari mereka. Siapakah yang akan dianggap aneh? Kita atau mereka? Tentu saja kita. Itulah hal yang jarang banget kita fikirkan. Mereka disebut aneh, karena berbeda dari kebanyakan orang dan melakukan hal – hal yang aneh tapi tidak melampaui batas. Kalau melampaui batas itu bukan aneh lagi tentunya.

     Einstein dan Newton aja waktu kecilnya aja disebut aneh, tapi akhirnya mereka menjadi terkenal dan ilmuwan besar. Mereka tidak terlalu peduli seberapa banyak orang yang membenci dan mencemooh mereka. Tapi tetep aja maju terus pantang mundur di jalan yang mereka yakini. Sehingga menciptakan sesuatu yang tidak biasa tapi bermanfaat. Dan akhirnya mereka menjadi trendsetter banyak sekali penemuan.



     Tapi saya salut deh, sama orang – orang seperti itu (aneh). Mereka bisa mempertahankan karakter mereka, dan hanya sedikit terpengaruh oleh lingkungan mereka. Daripada orang – orang yang hanya ikut – ikutan saja, dan bikin menderita diri mereka. Orang – orang aneh juga terkadang memiliki prinsip tersendiri sehingga tidak selalu terbawa arus. Dan akhirnya malah menjadi crayon yang membuat hidup kita menyenangkan dan tidak membosankan karena membuat setiap hal terlihat berbeda.

    Alhamdulillah itulah kata yang tertepat. Untuk mengekspresikan bahwa kita masih bisa bersyukur Allah SWT menciptakan manusia berbeda – beda, dan tidak selalu sama. Karena Dia ingin kita merasakan hidup yang nggak dataaaaaaaaaaaaaar, sehingga hidup ini terasa membosankan kayak liburan yang nggak ada kerjaan dan cuma stay tune at home.


     Hasta La vista!

     Wassalamua’laikum!

Sabtu, 02 Januari 2010

Kenapa Bendera Indonesia Merah-Putih? (edisi revisi)

Salamun’ Alaikum!


Salam Al-Ahmar wal Abjadh!

Hari ini kita melihat bendera merah-putih dikibarkan setengah tiang dimana-mana? Ada apa gerangan? Bagi kalian yang nggak tahu, keliatan banget jarang liat berita dan baca korannya. Tentu saja ini karena mantan Presiden RI yang cukup controversial Gus Dur meninggal (Semoga amal ibadahmu diterima Gus). Tapi kita tidak akan membicarakan Gus Dur karena emang udah banyak diceritain di TV yohohoho.

Mungkin kita belum pernah tahu, siapa yang pertama kali menggunakan Merah-Putih sebagai bendera negeri kita yang tercinta ini. BTW kalian tahu ga siapa yang pertama kali menggunakannya? Ternyata yang pertama kali menggunakannya adalah Ulama Islam yang datang sejak abad ke-7 ke Indonesia! (Es Sorprendente!). Kenapa para ulama menggunakan Merah-Putih sebagai dasar benderanya dan bukan warna hijau? Karena memang ada hadisnya , yang diangkat oleh Imam Muslim dalam Kitab Al Fitan, Jilid X, halaman 340, dari Hamisy Qasthalani:

Rasulullah bersabda:

Innallaha zawaliyal ardha – Sesungguhnya Allah menunjukan kepadaku (Rasul) dunia.

Masyaariqaha wa maghariba ha – Allah menunjukan pula timur dan barat.

Wa a’thanil kanzaini – Allah menganugrahkan dua perbendaraan kepadaku:

Al-Ahmar wal Abjadh – Merah Putih.

Begitu bunyi hadisnya.O iya kalian tahu ga? Ternyata Warna merah itu adalah warna sejatinya Islam. Buktinya masih didasarkan pada hadis yang shahih, dimana hadis itumenjelaskan bahwa pakaian Rasul itu berwarna Merah. Begini kira – kira bunyinya:

Kanan Nabiyu SAW marbua’an wa qadra ataituhu fi hullathin hamra-a – pada
suatu hari NAbi SAW duduk bersila dan aku melihatnya beliau memakai hullah
(busana rangkap dua) yang berwarnaMERAH.
Ma raitu syaian ahsana min hu – aku belum pernah melihat pakaian seindah itu
(Riwayat Bukhari, Abu Daud dan Tirmidzi)

Busana warna putih juga dipakai sama Rasulullah SAW. Juga sarung pedang Rasulullah SAW dan pedang Sayidina Ali ra berwarna merah. Sarung pedangnya panglima Khalid bin Walid Merah dan Putih. Bahkan Rasulullah SAW memanggil istrinya Siti Aisyah ra, Humairah yang artinya merah.

Cuman gara – gara Arab Saudi pake warna Hijau sebagai benderanya jadinya sama Indonesia dianggap sebagai bendera Islam. Padahal kan Hijau itu dipake setelah Kerajaan Saudi Arabia diganti sama dinasti Saudi yang rajanya Ibnu Saud, dan Hijau itu ternyata warna Islam pembaharuan Wahabisme. Jadinya warna Merah itu terkesan seperti bukan warnanya Islam padahalkan Masjid Rasulullah yang berwarna Merah dan Masjid di Spanyol, Al-Hambra atau Al-Ahmar yang tepatnya di Qordoba artunya kan merah.

Dampaknya dalam penulisan sejarah Indonesia, Merah-Putih tidak dihubungkan dengan Islam. Tetapi hijaulah yang menjadi warna Islam. Yang lebih parahnya lagi Mohammad Yamin, dalam Sapta Parwa Tata Negara Keradjaan Madjapahit, menuliskan Bendera Merah Putih adalah Bendera Keradjaan Madjapahit dari abad ke-13 (1293 – 1478M). Akan tetapi, dalam Sumpah Indonesia Raya, ia menuliskan bahwa Pangeran Dipenogoro dalam Jihad Fi Sabilillahnya (1240 – 1245 H/1825 – 1830 M) juga mengibarkan Bendera Merah Putih atau warna Gula Kelapa.


Hasta La Vista!

Wassalamua’laikum!

Sumber: Api Sejarah by Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara (Guru Besar Sejarah UnPad)

Sabtu, 26 Desember 2009

Mentoring? Apakah itu semacam tisu toilet?

Salamun’ Alaikum!

Salam Revolusi!



Mengaji? Hmm. Mungkin membaca kalimat itu saja, otak kita langsung shortcut inget baca Al – Qur’an, Ustadz, Kitab, Tajwid, Deelel. Saya yakin deh kalian pasti langsung memelas kalo diajak ngaji tapi cuman ngelakuin hal – hal itu saja. Sekarang mari kita buang jauh – jauh paradigma kalo ngaji itu cuma sekedar ngelakuin hal – hal diatas, yang saya yakin bikin muka kalian kayak terbanjur senyawa H2SO4 dengan kemolaran 1M.



Mentoring? Hmm mungkin kalian bingung setiap ada anak DKM yang bilang, kalau itu adalah kegiatan rutin DKM. BTW kalian jangan salah sangka dulu mengenai mentoring ini, apa lagi nganggap ini semacam tisu toilet. Mentoring itu adalah kajian Islam yang revolusioner dan gak ketinggalan jaman, dimana kita akan mengkaji Islam/ngaji secara fun, kreatif, menarik, dan santai. Di mentoring ini pun kita nggak akan sekedar baca Al – Qur’an tapi juga, dihibur, ketawa, dapet cerita yang memotivasi agar hidup lebih hidup, belajar bersama, nobar, deelel. Pokoe beda banget lah sama pengajian yang biasa!



Untuk ikutan mentoring ini, kalian nggak perlu bisa ngaji dulu bahkan tahu hukum – hukum fiqih. Jadi kalian tinggal ikut saja tanpa harus takut dimarahi gara – gara hafalan dikit atau baca Al –Qur’an nya ga bener. Karena di mentoring ini kita diajari bukan hanya sekedar baca Al – Qur’an ataupun Ilmu Fiqih. Tetap kita diajarkan bagaimana kita menjadi seseorang yang berkarakter, bangga terhadap Islam dan luar biasa. Menarik bukan?



Gimana udah mulai tertarik? Kalo pengen ikutan mentoring, gampang aja tinggal ngomong aja deh ke DKM di sekolah kalian. Ikut mentoring tanpa ikutan DKM pun boleh kok. Efek yang didapet setelah ikut mentoring ini mantap loh (Insyaallah) kalian bakal jadi semangat dan nggak madesu lagi, punya temen yang unik, dan dapet ilmu yang jarang banget didapet di pengajian biasa. Mau bergabung?



Hasta La Vista!

Wassalamu’alaikum!





“Kalau engkau benar – benar jujur kepada Allah, Dia
akan benar – benar mewujudkan maksudmu”